
Album ini merupakan album pertama atas kerjasamaku dengan sang producer: Tanaka Katsunori. Album ini telah meninggalkan satu memory tak terlupakan... Dalam hal penjualan... terus terang, gagal total!!!... Dalam era Jepang dilanda badai lagu2 bernuansa euro beat ala Komuro Tetsuya... perilisan world music semacam ini, dianggap suatu tindakan bodoh dan fatal. Tapi kita tetap menjalaninya dengan penuh semangat dan percaya diri. Hasil penjualan bukanlah merupakan barometer untuk pengukuran kwalitas. Setidak-tidaknya, aku bangga telah ikut berpartipasi dalam suatu gerakan pelestarian lagu2 tradisional Indonesia. Dan aku yakin bahwa album ini se-tidak2nya telah tercatat pada sejarah musik Indonesia. (meskipun banyak yang tidak tahu)
Komposisi album ini, ada 10 lagu, diantaranya 2 lagu original, 2 lagu Jepang coversion dan 6 lagu tradisional. Terperinci sebagai berikut:
01. Walang Kekek
Lagu ini pernah menjadi big hit dari mbak Waldjinah yang dirilis pada tahun 1968. Untuk track ini dibantu dengan backvocal Group Okinawa terkenal: Nenes! Perpaduan irama Jawa dengan Okinawa, ternyata berhasil membuat satu chemistry indah...! Bener! musik tanpa ada perbatasan... Mbak Waldjinah dan Nenes telah membuktikannya! Accodionist terkemuka dari Malaysia S Atan membuat arasemen lagu pada track ini lebih tebal dan berbobot. Arasemen oleh Sawara Kazuya.

02. Kembang Kacang MedleySeperti apa yang diketahui, tembang
"Kembang Kacang" adalah merupakan
debut song mbak
Waldjinah... juga tembang yang menuntun mbak
Waldjinah berhasil dinobatkan sebagai
Ratu Kembang Kacang ini memulai menitih sebagai pembawa lagu. Lagu debut mbak
Waldjinah pada track ini sengaja ditaruh pada bagian akhir, dan tembang
"Turi Turi Putih" dipakai sebagai
opening song... Disini, penyanyi beken Jepang
Sandii ikut mengiringi suara
Waldjinah! Ya....lagi lagi suatu
chemistry indah tercipta pada track ini!
03. Yen Ing Tawang (Ono Lintang)Langgam Jawa kuno,
Yen Ing Tawang (Ono Lintang), merupakan lagu favoriteku sepanjang masa....Basic arasemennya dibuat oleh
OTO dengan meng
overlap irama keroncong, juga sekaligus menyisipkan unsur2 instrumen Sunda (Gendang) didalamnya. Tapi
Waldjinah tetap tegar tak terpengaruh sama sekali, seperti biasanya tetap kukuh dengan ciri gaya
ke-JAWA-annya selama ini...
Hebat sampeyan mbakyu!
04. Campur Sari Medley"Campur Sari" adalah julukan buat kombinasi lagu2 bergenre
"Keroncong" + "Gamelan"....... banyak part (bagian) yang dikombinasi dan disambung menjadi satu track....pada bagian awal... tembang tradisi
"Ayo Praon",
"Pangkur" dan disusul dengan part salendro...
"Gethuk" dan
"Sampak"! Lagu
"Gethuk" ciptaan Mas
Manthos ditrack ini berhasil menghidupkan nuansa asri Campur Sari.
Mas
Manthos sebagai
conductor Gamelan Group dari Jogyakarta, mengarasemen track ini dengan cara baru, yaitu:
synthesizer dan
sampler, bukan dengan perekaman
gamelan live!
05. Kencono WunguLagi lagu original ciptaan
Manthos...menurut mas
Manthos, lagu ini menceritakan tentang putri suatu kerajaan dizaman dahulu.... Pada track ini sengaja didubbing satu instrument "sital"... terasa beda banged dengan lagu2 keroncong yang ada selama ini.

06. Shina No YoruTerus terang, lagu ini paling banyak masalah yang harus kita hadapi...
Pertama, dari sisi initernpun banyak yang tidak setuju dengan dinominasikan lagu ini, karena judulnya yang berbau sara (Shina = Cina). Kedua, alotnya dalam pengambilan licensi yang dimiliki oleh Columbia Jepang yang tidak didaftarkan pada
JASRAC (Japanese Society for Rights of Authors, Composers and Publishers).
Ya akhirnya masalahnya berhasil diatasi satu persatu... meskipun mengorbankan energy dan waktu yang lumayan besar.
Sebutan
Cina sampai sekarang bagaimanapun juga masih menekan dihati (dengan latar belakang sejarah Indonesia )... karena bagaimanapun perasaan trauma masih tetap menghantui... mbak
Waldjinah dari awal justru sangat suka dan sudah familier, bersikeras untuk menominasikan lagu ini....
"Aku nyanyi dengan perasaan kagum atas keindahan malam Tiongkok kok....." kata mbak
Waldjinah lucu.
OK...akhirnya semua berjalan....tapi apa mau dikata saat dirilis di Indonesia, lagu ini justru dihujat oleh pemerintah Orba....dengan alasan
"ngga selayaknya untuk memuji keindahan negara orang lain"Ooooohhh.....emang lagu serba banyak masalah!
Tapi tembang ini benar2 luar biasa, dengan basic arasemen yg dibuat oleh
Sawara Kazuya di
overdub dengan
horn & percussion dari grup band terkenal
19-21 Universal Band plus
rhythm nya dibuat ala
habanera dikombinasi dengan detakan
Brazil! Bener-bener
OK banged!

07. Kumanthil Neng Ati (Hana) Mungkin ini adalah lagu Jepang yang paling terkenal diera 90's, judul originalnya:
"Hana", ciptaan
Kina Shokichi. Tembang ini berkat didaur-ulang oleh penyanyi Taiwan kelahiran Hongkong;
Emil Chou dirilis dengan judul
"Hua Xhin" meledaklah dimana-mana....sampai keseluruh penjuru dunia!
Arasemenya dibuat
pop keroncong. Accodionist
S Atan dan pianist
Marc Chu, keduanya dari Malaysia, ikut meramaikan tembang ini. Mbak
Waldjinah bernyanyi dalam 2 bahasa, Jawa dan Jepang!
08. Sih KatresnanLagu original hasil karya mas
Is Hariyanto. Menurut mas
Hariyanto memang tembang ini dibuat dan dipaskan dengan imaj mbak
Waldjinah!. Awalnya hanya diarasemen dengan
pop keroncong tapi ternyata hasilnya kurang terlihat kelebihannya, maka sang producer
Tanaka Katsunori menambahkan bunyi petikan guitar
Sasako-san dan bandolim & cavaquinho (instrument brazil)
Akioka-san sehingga menjadikan tembang ini lebih
fresh dan bervariasi.

09. Tanjung PerakDulu waktu kecil, aku sering ke Tanjung Perak. Perjalanan dari Jember menuju Surabaya selama 4 jam memang cukup menjemukan, apalagi bagi anak kecil...tapi teringat akan melihat laut di Tanjung Perak dengan sederetan kapal2nya... maka semua jadi
happy happy azja. Imaj Tanjung Perak yang aku peluk selama ini ternyata persis tertuai dalam tembang ini!
Benar-benar fantastique!Tembang ini termasuk salah satu tembang yang mengalir sejak zaman Belanda doeloe. Aslinya lagu ini adalah bergenre keroncong, tapi dengan sang producer diganti total dengan detakan
march, persis seperti menyambut carnaval dibulan Agustus...! Alhasil....tembang ini menjadi begitu jenakanya, sahut2an mbak
Waldjinah dengan mas
Anthok meninggalkan suatu kenangan khusus.
Seperti track 6:
Shina No Yoru... background musiknya juga di
overdub dari gebukan
19-21 Universal Band!
siiip banged10. Othok Othok Unine TetekSebagai penutup album, diambil tembang ini, yang konon juga berasal dari zaman Belanda doeloe! Tambang ini juga dikenal dengan judul dalam bahasa Indonesia
"Kelap Kelip"... Lyric bahasa Jawa, adalah ciptaan bapak
Gesang. Khusus tembang ini diarasemen dengan "Keroncong Standart"... dan pada sesi intro-nya, sengaja
meminjam satu bagian melody dari lagu yang pernah nglejit ditahun 50-an,
"Aiga". Menurut catatan yang ada, tambang
"Aiga" ini aslinya adalah lagu India.
Album ini pernah dirilis di Indonesia dengan format cassette oleh GNP (Gema Nada Pertiwi) dengan jumlah track yang sama, tapi berbeda 1 tembang!
Thanks buat
Tanaka-san dan semua orang yang berkaitan dengan pembuatan album ini....
Thanks juga buat sobat MPers...
Semoga album ini nantinya juga diberi kesempatan untuk singgah dihati sobat semua...
Amien....Zay